Pada suatu sore saat Yukimura sedang membeli bahan makan malam di minimarket bersama Akaya, mereka kebetulan bertemu dengan teman mereka di minimarket itu.
“Bunta!” Yukimura melambai-lambaikan tangannya ke arah yang dipanggilnya. Bunta menengok ke arah sumber suara dan menghampiri mereka, “Hai,” sapa Bunta.
“Lagi ngapain, Bunta?” tanya Yukimura lembut.
“Aku lagi nyari hadiah nih, untuk hari Ayah,” jawab Bunta.
“Hari ayah? Emang sebentar lagi hari ayah ya?” tanya Akaya bingung.
“Iya. Masa kau lupa? Hari ayah kan minggu ke tiga di bulan Juni,” jelas Yukimura.
“Emang kau tidak memberikan hadiah untuk ayahmu?” kini Bunta yang balik bertanya.
“Nggak. Dulu seminggu sebelum hari Ayah, papa Yana pernah memberitahuku agar aku tidak memberinya hadiah saat hari Ayah nanti. Papa Yana bilang, mending uangnya kugunakan untuk hal yang lebih berguna ketimbang hanya untuk memberinya hadiah,” Akaya gantian menjelaskan. Kedua temannya manggut-manggut mendengarkan penjelasan temannya itu.
“Terus, uangnya kau gunakan untuk hal berguna seperti apa?” tanya Yukimura.
“Uangnya aku gunakan untuk main di game center hehe” nyengir Akaya bangga.
“Itu sih lebih gak berguna lagi, dasar buodoh,” batin Yukimura.
“Enak ya, punya ayah kayak Papa-mu begitu,” ujar Bunta.
“Emang papamu kenapa?” tanya Yukimura.
“Kalau papaku sih…”
Flashback bentar
Papa Niou : Heh, anak gendut!
Bunta : Ape? (sambil ngemil snack)
Papa Niou : Inget ye, minggu depan hari Ayah. Awas loh kalo sampai lupa ngasih hadiah ke gue (dengan nada mengancam)
Bunta : ….
Papa Niou : Woi, gendut! Lu denger gak sehh tadi gue ngomong apa!?
Bunta : Iya, denger.
Papa Niou : Hadiahnya jangan yang murahan loh.
Bunta : (dalem hati) Bawel banget sih.
Flashback end
“Begitu ceritanya,” ujar Bunta sambil mengingat-ingat kejadian beberapa hari yang lalu di rumahnya.
“Emang maunya ngasih hadiah kayak apaan?” tanya Akaya.
“Aku sih maunya yang harganya murah tapi berkesan di hati papa gitu,”
“Kalu hadiah kayak gitu sih aku tahu,” Yukimura menepuk tangannya tanda ia mendapatkan sebuah ide.
“Heh? Yukimura dapet usul ya?”Emang hadiah yang Yukimura maksud kayak gimana?” tanya Bunta dengan muka yang mulai berseri-seri.
“Kalau menurtku sih ya, mending kamu tanya langsung aja ke papamu dia maunya hadiah yang kayak gimana. Pasti papamu senang deh. Aku juga begitu kok. Tahun lalu ayah Hiro mita aku memijat pundaknya saat ia habis pulang kerja. Dua tahun yang lalu ayah Hiro dia minta aku untuk mengirimkan sebuah surat untuknya. Dia sangat senang sekali membaca surat dariku. Sedangkan tahun ini, ayah Hiro memintaku memasakkan makanan yang enak saat hari ayah nanti,” Yukimura menjelaskan usul ke kedua temannya itu, “Gimana ideku, bagus kan?” Muka Bunta yang tadi mulai berseri-seri kembali sedih.
“Loh, loh, kenapa? Kamu tak suka dengan ideku ya?” Yukimura jadi kecewa.
“Bukan. Sebenarnya aku sudah mencoba usulmu itu tahun lalu,” cerita Bunta.
“Terus?” Akaya malah jadi penasaran.
“Tapi…”
Flashback lagi…
Bunta : Papa (bunta menghampiri ayahnya yang lagi baca koran)
Papa Niou : Apaan? Laper? Barusan kan dah sarapan 3 piring.
Bunta : Bukan itu, papa (menggembungkan pipinya tanda kesal). Aku mau nanya, papa mau hadiah apa untuk hari ayah nanti?
Papa Niou : Iya, ya. Bentar lagi kan hari ayah, ya. Hmm…hadiah apa ya bagusnya? (tangan kirinya memegang dagu)
Bunta : Jangan yang mahal-mahal loh, pa.
Papa Niou : Gimana kalo Jacket yang waktu itu ada di departement store. Eh, tapi sepatu yang ada di toko olahraga itu juga bagus. Hmm…jadi bingung nih.
Bunta : Jangan jacket atau sepatu dong, pa. Itu kan mahal.
Papa Niou : Iya deh, iya. Ya udah kalau gitu jam tangan aja deh. Yang warna biru tua ya.
Bunta : Heh? Itu kan juga mahal.
Papa Niou : Kebanyakan protes dah lu. Udah ya, Bunta. Dah kesiangan nih (sambil ngeliat jam tangannya). Papa berangkat kerja dulu ya. Bye bye…
Bunta : Tunggu dulu, pa!
Papa Niou : Papa tunggu ya, jam tangannya!
Flashback end
“Begitulah. Uang jajanku tiga bulan yang kutabung habis gara-gara beli jam tangan itu. Huh, dasar papa gak tahu diri,” Bunta cerita dengan nada kesal. Kayaknya dia memang jengkel banget ama tuh papa kandungnya sendiri.
“Aduh, kasihan ya,” Yukimura ikut bersimpati.
“Untung papa gue gak kayak gitu,” ujar Akaya lega yang menyadari ternyata papanya gak setega papa temannya itu.
“Maaf ganggu, anak-anak,” tiba-tiba ada seorang laki-laki bertubuh agak besar dengan mengenakan sebuah topi hitam menghampiri mereka bertiga yang masih asyik bercerita. Ternyata dia adalah manajer mini market tersebut.
“Kalian mengganggu pengunjung yang datang. Bisakah kalian keluar sekarang?” ujar laki-laki yang diketahui bernama Sanada. Ternyata dia kesel gara-gara tuh tiga anak dari tadi gak beli apa-apa melainkan malah asyik bercerita sehingga mengganggu pengunjung yang ingin berbelanja karena mereka bercerita di tengah jalan.
“Eh, tapi pak…”
“Gak ada tapi-tapian. Keluar!” Laki-laki itu lalu mengusir mereka dengan melempar ketiga anak tersebut keluar dari minimarketnya. Yukimura belum membeli bahan untuk makan malam dan Bunta belummendapatkan hadiah untuk ayahnya. Malangnya nasib mereka.
~ THE END ~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar