Kamis, 12 Agustus 2010

Penpik Ramadhan

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Semuanya ^_^


Ngomong-ngomong soal puasa, aku punya penpik ramadhan nih. Pemerannya anak-anak Rikkai. Kalau mau, silakan baca ^_^


Penpik Ramadhan Rikkaidai


“Semuanya, hari ini adalah hari pertama puasa!” suara Yukimura menggelgar di tengah lapangan.

“Kita semua juga tahu kali kalo hari ini hari pertama puasa,” sela Akaya yang sudah berbaris di depan sang Buchou.

“Yukimura-kun, kau kan sudah tahu kalo hari ini kita puasa. Terus kenapa kamu masih menyuruh kita berbaris di siang panas begini sih?” Tanya Yagyu sambil kipas-kipasan.

“Aduh, Yagyu. Kamu tuh pinter atau begok sih? Tentu aja aku menyuruh kalian untuk latihan,” ujar Yukimura santai.

“UAPPA!!??” semua anggota Rikkai berteriak kecuali Yukimura dan Sanada.

“Heh, Seiichi. Lu gile apa!? Mosok puasa-puasa begini kita disuruh latihan,” ujar Yanagi tak terima.

“Tauk nih! Panas-panas begini lagi. Mau bikin gue tambah gosong kayak ikan baker apa,” Jackal ikut-ikutan tak terima.

“Niou~” panggil Bunta lemas. Niou ngelirik ke sosok yang ada di sampingnya.

“Sekarang jam berapa?” Tanya Bunta. Niou melihat jam tangannya. Eh, ternyata dia lupa bawa jam tangan. Akhirnya dia tanya Yagyu.

“Yagyu, sekarang jam berapa?” Yagyu mencari-cari jam disekelilingnya. Ternyata dia juga gak punya jam. Tapi gak ada jam satu pun di lapangan.

“Gak tau. Sekitar jam 3 kali,” ujar Yagyu.

“Ndut, kata Yagyu, jam tiga-an,” Niou memberitahu teman disebelahnya.

“Huweee~”

“Kenape lu, ndut? Laper? Bedug masih 3 jam lagi loh,” ujar Niou lagi.

“Nah, Bunta. Kamu laper kan? Daripada bosen nungguin bedug magrib, mendingan kita latihan aja,. Iya, nggak?” ujar Yukimura yang mengetahui Bunta dah laper.

“Ogah! Makin laper aja gue kalo latihan,” tolak Bunta.

“Gimana nih, Sanada? Pada gak mau latihan,” Yukimura pasang tampang memelas.

“Semuanya! Puasa gak puasa kalian harus tetap latihan penuh!” teriak Sanada, “Sebagai pemanasan, kalian lari keliling lapangan 20 kali,”

“UAPAAA!!!???” Anggota regular Rikkai teriak untuk kedua kalinya.

“Yang protes, silakan lari keliling lapangan 50 kali!” tambah Sanada. Akhirnya semuanya pun nurut apa yang dikatakan Sanada. Daripada mereka musti lari 50 kali. Makin capek aja dong.

20 menit pun berlalu…

“Gile! Capek banget gue!” teriak Niou.

“Haus pula. Sekarang kan gue belom bisa minum,” ujar Yagyu sambil nge-lap keringatnya.

“Huweee~ Laperrr!!!!” rengek Bunta lagi.

“Heh, Bunta. Kalau kamu nangis terus begitu bisa-bisa puasamu batal loh,” ujar Jackal.

“Bagus dong! Kalau batal kan aku bisa makan!” ujar Bunta malah seneng. Yukimura tiba-tiba menghampiri mereka semua yang masih kecapekan di pinggir lapangan.

“Kalian semua dah selesai lari 20 kali keliling lapangan,” Tanya Yukimura.

“Eh, Seiichi. Kalau kita belum lari, gak mungkin nih keringat ngalir di tubuh kita,” ujar Yanagi kesel.

“Loh? Buchou kok gak kelihatan capek sih? Buchou gak ikutan lari ya?” Tanya Akaya.

“Yah enggaklah. Kalau aku lari, nanti aku malah haus. Aku kan lagi puasa,” ujar Yukimura nyantai. Yang lainnya dah pengen banget gebukin tuh Buchou. Tapi sayangnya mereka tahan. Karena puasa juga selain menahan lapar dan haus, mereka juga harus mengendalikan hawa nafsu.

“Karena aku kapten yang baik, jadi kalian boleh istirahat sebentar selama 2 menit,” ujar Yukimura lagi.

“Busyet deh! Sebentar amat!” teriak Niou.

Kan tadi aku memang dah bilang, istirahatnya cuma sebentar,”

“Tapi apa dua menit itu gak kecepatan?” Tanya Yanagi sedikit gak terima.

“Yah enggaklah. Aku malah pengennya istirahatnya cukup 1 menit aja,” ujar Yukimura makin seenaknya aja.

“Buchou, 10 menit dong!” tawar Akaya.

“Nggak bisa. 10 menit tuh kelamaan,”

“Kalau gitu 5 menit deh,” kini Bunta yang gantian nawar.

“Kalian ini apa-apaan sih? Gak ada tawar-tawaran. Sanada aja dari tadi diam gak protes. Iya kan, Sanada?” Sanada cuma mengangguk pelan. Sebenarnya dia diam dari tadi untuk menghemat suara biar gak cepet haus.

“Yak! Istirahat selesai!” Yukimura memencet tombol stopwatch yang dipegangnya.

“APAAAA!!!???”

“Yukimura-kun, yang bener aja dong. Istirahat aja belom mulai. Ini malah dah selesai,” protes Yagyu.

“Tapi ini dah 2 menit kok. Kalian aja dari tadi ngoceh melulu,” ujar Yukimura sambil kipas-kipasan minjem kipasnya Yagyu yang tadi, “Sekarang kalian boleh mulai latihan swing di lapangan selama 20 menit,” perintah Yukimura. Yang lainnya masih diam di tempat. Tak menghiraukan perintah sang Buchou tersebut.

“Yah, gak papa sih kalau kalian gak mau. Tapi nanti pulangnya kalian harus lari 50 kali keliling lapangan,” ujar Yukimura dengan nada mengancam. Setelah diancam, barulah mereka memulai latihan swing. Sanada latihan bersebelahan dengan Yanagi.

“Woi, Gen’ichirou,” panggil Yanagi.

“Hmm…”

“Lu kok gak bantah perintahnya Seiichi sih? Ini kan bulan ramadhan. Lu kan tauk kalo bulan ramadhan ini seharusnya kita lebih banyak beribadah daripada latihan tennis,” ujar Yanagi sok-sok alim.

“Nanti kalo gue bantah perintahnya Yukimura, nanti jadinya gak ada latihan dong!” ujar Sanada pelan.

“Itu malah bagus dong! Kok kamu malah gak seneng sih?” Tanya Yanagi bingung.

“Kalo gak ada latihan, kan gue gak bisa lihat Yukimura. Terus gak bisa deket-deket ama dia dong. Gue kan pingin selalu ada di sisinya,”

“Gen, nyebut. Ini tuh masih puasa. Jangan mikirin yang aneh-aneh deh,”

Iya-iya. Gue tauk!”

Kita pindah setting ke Niou, Bunta, ama Jackal.

“Huweee~ Laper!!!”

“Heh, endut. Gue tuh bosen tauk dengerin lu nyanyi itu terus,” ujar Niou kesel.

“Habis aku kan laper,” ujar Bunta menghapus air matanya.

“Terus kalo lu laper, kenapa?” Tanya Niou lagi.

“Beliin makanan dong!” rengek Bunta.

“Ogah! Ini kan masih puasa. Belom boleh makan ndut,” Niou beralasan.

“Ya udah, beliin makannya buat buka puasa aja,” usul Bunta.

“Nggak mau! Gue lagi bokek sekarang!” teriak Niou.

“Huh, bilang aja dari tadi kalo lu gak mau beliin makanan karena gak punya uang,” Bunta malah jadi kesel. Ia pun ngelirik Jackal yang masih sibuk latihan swing. Jackal merasa ada firasat buruk yang akan datang.

“Huweee~ Jackal!” rengek Bunta ke arah Jackal.

‘Sudah kuduga,’ batin Jackal dalam hati, “Iya, iya. Nanti pulang latihan kubelikan kue yang ada di depan stasiun buat buka puasa,” ujar Jackal pasrah menjalani firasat buruknya yang kini sudah terjadi.

“Yay!” teriak Bunta ceria.

Sekarang kita ke Akaya ama Yagyu.

“Yagyu-senpai,” panggil Akaya. Yagyu tidak menjawab panggilan Akaya.

“Yagyu-senpai,” Akaya mencoba memanggil senpainya sekali lagi. Tapi tetap saja gak dipelukan.

“Yagyu-senpai, kenapa sih? Aku panggil kok diam aja. Marah ya ama aku?” Tanya Akaya yang kini sudah mulai menggoyang-goyangkan tubuh senpainya. Alhasil sih Yagyu jadi kesel.

“Woi, Wakame-kun! Lu jangan buat gue makin kesel deh. Gue tuh dah kesel gara-gara Yukimura nyuruh latihan. Kalau lu bikin gue kesel lagi, gue bisa batal puasanya nih,” ujar Yagyu ngomel-ngomelin kouhainya. Akaya jadi ketakutan sendiri.

“Ma…Maaf deh, Yagyu-senpai,” ujar Akaya gemetaran.

Akhirnya latihan yang sebentar tetapi terasa lama bagi anak regular Rikkai pun selesai.

“Huff~ Selesai juga nih latihan,” Niou mengelap keringatnya dengan handuk.

“Akhirnya, setengah jam lagi buka puasa,” ujar Akaya lega.

“Maaf, semuanya. Aku harus cepat pulang. Aku sudah janji akan berbuka puasa bersama dengan keluarga,” pamit Yagyu.

“Kita juga harus cepat ke toko kue itu, Jackal. Sebelu kue itu habis terjual,” Bunta menarik tangan Jackal. Tetapi, saat mereka ingin keluar dari ruang klub, Yukimura menghalangi mereka keluar.

“Eits! Enak aja kalian seenaknya pergi dari sini,” Yukimura berdiri di depan pintu ruang klub.

“Loh, bukannya latihan dah selesai, Yukimura-kun?” Tanya Yagyu bingung.

“Selesai sih dah selesai. Tapi kalau mau keluar dari sini, bayar dulu dong! Kalau gak bayar yah gak boleh keluar dari sini,” ancam Yukimura.

“APA!? BAYAR!!?” anggota regular yang lainnya berteriak.

“Iya, bayar. Setiap orang goceng!” suruh Yukimura.

“Bacar gocek? Ogah! Cepek aja gue gak punya!” teriak Niou.

“Aku juga lagi bokek nih,” ujar Akaya.

“Uangku sudah habis buat beli kue tadi pagi,” kini Bunta yang beralasan.

“Kalau mau goceng, bayar dulu utang lu kemarin,” ujar Yagyu.

“Lunasin dulu uang kas yang dah lu tunggak 5 bulan,” tambah Yanagi.

“Gantiin cukur listrik yang lu rusakin minggu lalu,” Jackal ikut-ikutan. Semuanya pada berkicau. Kecuali Sanada. Dia nurut ajah ngasih uang Rp 5000 ke Yukimura.

“Apa? Jadi kalian gak mau kasih goceng ke aku?”

“Goceng, goceng. Uang kas juga goceng per bulan tauk. Tapi lu juga gak mau bayar. Nunggak 5 bulan lagi!” ujar Yanagi.

“Jumlah utang kamu lebih besar daripada uang yang kamu minta. Jadi kembalikan dulu utangmu itu,” tambah Yagyu.

“Hiks…Hiks…” Yukimura mulai meneteskan air matanya, “Kalian gak tau perasaanku yang ditinggal orang tua selama 2 minggu ini tanpa diberi uang sedikit pun. Bagaimana bisa aku berbuka puasa nanti” ujar Yukimura sambil menangis.

“Yukimura, jangan nangis dong. Aku kan gak tau kalo kamu ditinggal pergi orang tua kamu. Nih deh, kukasih goceng,” Jackal memberikan selembar uang kertas Rp 1000 dan Rp 2000, 2 logam Rp 500, dan 10 logam Rp 100. Maklumin aja uangnya receh. Dia baru aja ngamen di perempatan kemarin sore.

“Aku juga ngasih deh,” Yagyu mengeluarkan selembar uang Rp 5000 dari dalam dompetnya.

“Cuma segini?” Yukimura menatap Bunta, Akaya, Niou, dan Renji yang belom memberinya uang sama sekali dengan bergelimang air mata.

‘Aku gak akan tertipu dengan air mata palsu itu,’ batin Niou dalam hati.

‘Aku tahu 100% dia pasti bohong,’ batin Yanagi.

“Maaf ya, Buchou. Bukannya aku gak mau kasih. Tapi aku bener-bener gak punya uang,” ujar Akaya.

“Aku juga gak punya uang. Kalau kamu mau, biar Jackal aja yang bayar gantiin aku,” ujar Bunta polos.

“Enak ajah! Emoh gue!” teriak Jackal gak terima.

“Ya sudah semuanya, kita pake uang kas dulu saja untuk Yukimura berbuka puasa,” Sanada memutuskan.

“Tapi, Gen…” Yanagi mencoba membantah akan keputusan sahabatnya.

“Nanti kekurangan dari uang kas biar kita tutupi bersama saat kita semua sudah punya uang,” tambah Sanada.

“APAAA!!!??” Semua anggota regular kecuali Sanada dan Yukimura tak setuju akan keputusan Sanada.

“Apa kalian semua gak kasihan sama Yukimura?” Tanya Sanada. Yang lainnya pada terdiam. Akhirnya semuanya pun setuju-setuju juga. Yukimura pun menerima sebagian uang kas klubnya. Tapi, saat mereka semua sudah pulang. Yukimura tersenyum licik.

“Hahaha…Mereka terlalu gampang dibohongi. Uang sih aku dah dikasih banyak ama orang tuaku. Kalo uang yang dikasih ini sih buat beli pot bunga yang kutaksir,” ujar Yukimura senang telah berhasil membohongi teman-temannya.


Begitulah cerita dari fanfictku ini. Maaf ya kalau gaje banget.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar